24.8.10

anggap saja kegalauan

monolog kala hujan dini hari
saat hati bersenandung penuh elegi
lirih, mencari senyuman dalam duka
bak berharap surya saat senja
aku buta, masih bisu seribu bahasa
diam penuh makna
merangkai satu satu aksara yang terberai
mengikat tirakat yang terurai
dalam rasa dan karsa
merapal nama dalam kerinduan
mendengar tiap lisan  roman picisan
impulsif dan impresif
menjadi eksplosif dan protektif
rapuh,rentan digigir dalam jelaga kecemasan
mencari mata dari kejauhan
serpihan kegemilangan dalam keremangan
meraba sebuah kelembutan
mudah datang kemudian hilang
sesaat kemudian ada lalu tiada



ga ngerti gua ngetik apa ? sama

No comments:

Post a Comment

komengnya plis..