27.9.10

roman picisan

lapuk, bantalan kayu yang kududuki tempatku terpaut.
memandangi gerimis yang menari nari kecil disudut jendela kelas, menyapa ramah dengan menuliskan namamu dipermukaannya, seakan mengejek rasa rindu yang kian menyiksa
aku tersesak , tercekik bayanganmu yang kian mengabur dari pandanganku. walau nyatanya tak hilang dari batinku.
saat ini aku duduk termangu memundurkan pandanganku disaat kita berteduh diantara hujan yang berderai bernyanyi melantunkan ritme yang tak bernada.
lalu aku terseret kembali ke arus waktu saat ini, waktu istirahat. banyak dari mereka yang memilih untuk makan bekalnya, belajar, bermain, mengobrol, atau sekedar tidur ditempatnya.
tapi aku ? aku memilih untuk diam dalam sepiku melamunkan pikiranku kepada kamu, atau melantunkan lagu tentang kita. aku tak mau seperti mereka. maksudku, aku memilih untuk diam karena dengan itu aku bisa dekat denganmu, menatap bayanganmu lekat, mendengar suaramu pekat dan aku tak ingin melupakanmu sedetikpun sayang.
ah aku tak pandai berkata seperti pujangga pujangga itu, mungkin bibirku tak semanis gie atau chairil saat mereka memikirkan kekasihnya. namun kami sama dalam satu hal, rindu pada wanita yang disayangi.
saat ku melantunkan lagu terakhir pudar sudah semua bayanganku bel masuk pun berbunyi..

2 comments:

  1. lagi galau ya kak?haha kenapa isinya pas banget sama yang gue alamin.-,- like this post!

    ReplyDelete
  2. ga kok ca, iseng ini sastra bukan galau orang kangen

    ReplyDelete

komengnya plis..