30.11.10

Cerpen panjang

ini tugas bahasa dari bu nina hehe, gua ga pernah bikin cerpen sebelumnya ya maklumin aja kalo jelek hhe.


Kepingan Yang Hilang
Ditatapnya lekat mata tajam penuh harap itu, bibirnya mengalirkan sebuah kalimat yang tak dapat didengar oleh telinganya. Sayup terdengar seperti "terimakasih..", tapi hanya berbisik lalu berdesir bersama angin yang bertiup kencang di atas gedung pencakar langit itu. Wajah gadis itu tersenyum penuh arti. Al mengarahkan kameranya menuju gadis bergaun putih itu. Didekatinya kemudian. Terlambat. Gadis itu terjun bebas dari atap gedung.
"Aaaaargh!!!" Al terhenyak, ia terbangun dari tidurnya. Sudah seminggu ini Al selalu memimpikan hal yang sama di setiap malamnya. Hal ini tentu saja membuatnya bertanya-tanya siapa dan mengapa.
Aldira fathir. Pria berwajah tirus ini adalah seorang fotografer. kacamata yang melekat diwajahnya menegaskan bahwa ia adalah seorang yang serius, fokus dan tidak main-main dengan apa yang ia jalani. Tapi beberapa hari terakhir ini pikirannya terganggu oleh mimpi yang menerornya tiap malam. Ia selalu merasa bersalah setiap kali mengingat mimpi itu. al tahu gadis itu ingin bunuh diri dan al cukup dekat untuk menjadi penyelamat hidup gadis itu. Tapi apa yang ia lakukan ? Hanya berdiri terpaku dan memotretnya untuk terakhir kali. Ironis.
Al yang diliputi rasa bersalah berusaha keras untuk tidak memikirkannya. Pagi ini di kantornya ia menemukan sebuah artikel tentang rumah sakit jiwa tua yang akan ditutup karena kebobrokan konstruksi. Entah mengapa artikel itu sangat mengusiknya, "ini..tidak mungkin ! Ini kan gedung yang ada dalam mimpiku ?" Al terperanjat kaget, ia menemukan sebuah kebetulan yang mengejutkan. Artikel itu menjadi sebuah titik terang untuk memecahkan maksud mimpinya.
Ia menelpon rumah sakit tersebut dan ia menanyakan tentang gadis kecil yang ada didalam mimpinya itu "maaf pak kami tidak menemukan satu pun pasien seperti yang bapak tanyakan, mungkin bapak salah" jawab suara diseberang sana. Al dapat menemukan nada keraguan dari ucapan wanita tersebut. "Apakah anda yakin ? Kalau boleh tau kemana semua pasien itu dipindahkan ?" Tanya al lagi. "Semua pasien telah ditampung ke rumah sakit jiwa lain di daerah grogol pak" jawab wanita itu lagi. Usai mengakhiri percakapan itu, al bergegas menuju ke rumah sakit di grogol.
Di carinya satu pasien pindahan dari rumah sakit itu. Nihil. Tak ada satupun yang mirip dengan gadis dalam mimpinya. Tapi sebelum ia pulang ia terkejut bukan main, ia dicegat oleh seorang anak kecil yang berteriak memanggilnya "samara..! Samara..! Tolong samara..!" Seru anak itu. Al yang tidak tau apa apa segera berlalu dan pulang
Langit sore itu kian kelabu, menutup pekat cahaya matahari yang tak dapat menerobos masuk lewat tembok awan gelap yang berarak. Kelam sekali, derai hujan turun terlalu deras, mengaburkan pandangan siapapun yang memaksa berjalan menembusnya, kilatan petir dan guntur saling bersautan menggambarkan kemarahan langit terhadap bumi. Al duduk di selasar panjang rumahnya, berteman sepi dan secangkir kopi, ia sudah la tinggal sendiri. Sejak kecil ia sudah terpisah dari Ibu dan ayahnya, ia diasuh oleh keluarga angkatnya kemudian disekolahkan sampai berhasil, hingga detik ini dia masih belum tahu dan tidak ingin tahu siapa keluarganya. Hujan melarutkan lamunannya, ia dininabobokan oleh suasana.
*                                                             *                                                             *
“HEI KELUARLAH, TIDAK ADA GUNANYA BERSEMBUNYI!” teriak seorang wanita berbadan tegap itu “Aku tahu kau disitu ! jadi keluarlah atau kau akan menerima balasannya !!!” bentak ia pada seseorang. Di ruang kecil gelap dan lembab itu terdengar suara desah takut dari seorang gadis “tolong aku” bisiknya pelan hampir tak terdengar. Derap langkah di lantai becek itu semakin mendekat dan mendekat, air mata sang gadis tak dapat terbendung lagi, ia meleleh bersama tetesan air dari pipa bocor gedung tua itu.”DISINI KAU RUPANYA” senyum licik terukir diwajah wanita gemuk itu, seolah memang ditempatkan pada wajahnya yang pualam.”tidak kumohon..”
Keringat mengucur deras membanjiri tubuhnya.Lagi- lagi  Al memimpikan gadis yang sama, tapi kali ini ditempat yang berbeda, dan dengan cerita yang berbeda. Terlihat gadis itu tengah bersembunyi diantara reruntuhan dalam ruangan yang pekat dan gelap. Ia seolah sudah bisa menebak dimana tempat itu berada “ini pasti Rumah Sakit itu, ada yang tak beres dengan tempat itu”gumam Al. “ini aneh sekali, mimpi-mimpiku seperti kepingan puzzle yang saling berhubungan” Al berpikir keras akan hal ini. Dia memutar otak untuk mencari tahu siapa gadis itu. Ia teringat sesuatu “Jangan jangan…” Al bergegas berlari menuju gudang rumahnya, mencari sesuatu ditumpukan kardus tua yang berdebu, Al meracau, ia diselubungi rasa takut yang amat sangat .“INI DIA !!!”,teriaknya antusias, diraihnya album foto peninggalan keluarganya, disentuhnya perlahan lembar demi lembar foto yang tertempel disitu hingga jarinya terhenti pada sebuah foto. Ya, sebuah foto lengkap keluarga. Al beserta Ibu dan Ayahnya. Tunggu. Matanya menangkap sesuatu yang ganjil di foto itu, di foto itu terdapat garis tipis seolah bekas sobekan, halus memang tapi masih dapat terlihat samar samar. Seharusnya ada empat orang dalam foto itu.
*                                                             *                                                             *
Al memacu kencang mobilnya seolah tidak peduli dengan padatnya lalu lintas ibu kota siang itu, ia nampak kalut, suara mesin berderu bersama debu jalanan yang berhamburan, membuat pengemudi lain terpaksa membunyikan klakson kendaraan mereka .Diterobosnya setiap lampu merah yang ditemui. Perjalanannya terhenti pada sebuah gedung tua yang tidak terpakai lagi, disudut gedung itu masih berdiri kokoh plang nama gedung itu “Rumah Sakit Jiwa Eenzamheid” sebuah nama Belanda yang nampak cukup seram sesuai dengan rupa gedung itu. Ia masuk melalui celah celah jendela yang terbuka. Ditelusurinya koridor bangunan tua itu, suasananya sunyi, tak sedikitpun ada tanda tanda kehidupan kecuali sarang laba-laba yang banyak melekat disudut-sudut ruangan. Ia terhenti pada sebuah pintu kecil yang nampak tak asing lagi. Ia melihat apa yang ada dalam mimpinya. “sial! Pintunya terkunci” Al mengerahkan seluruh tenaganya untuk membuka pintu itu.
Tidak. Ruangan itu sudah kosong, ia menengok ke tempat dimana gadis itu bersembunyi, Ia sudah tak ada, ia mulai ragu dengan keabsahan mimpinya. Tapi tiba-tiba “BRUG” sebuah benda keras menghantam kepalanya, Al jatuh pingsan.
Al membuka matanya, ia mencoba mengingat kembali apa yang terjadi pada dirinya, ia baru menyadari tangannya terikat, ia telah dipukul oleh seseorang. Al mencari cara untuk membebaskan dirinya, ia dekatkan tangannya yang terikat pada sebuah serpihan benda tajam diantara reruntuhan, dengan susah payah ia berhasil membebaskan diri. Tiba tiba terdengar suara orang datang “Sudah bangun kau rupanya ? siapa kau dan apa maumu datang kesini ?” tanya wanita itu. “bebaskan gadis itu ! apa salahnya ?” jawab Al, masih berpura-pura terikat,.”Dia itu penyakit, pasien lama yang sok tau, dia itu aneh, bisa memasuki mimpi orang lain, dia itu bukan manusia! Dia akan berbahaya bagi orang lain” balas wanita itu. “Kau yang bukan manusia !!! dia hanya gadis muda yang tak tahu apa apa ! bebaskan dia sekarang atau..” gertak Al. “Atau apa ???” “atau makan ini !” diterjangnya wanita itu dipukulnya dia dengan benda keras Al menguncinya dalam ruangan itu dia segera mencari Samara. Gadis yang selama ini di mimpinya, adiknya yang selama ini masih hidup.
Ia memiliki firasat Adiknya berada diatas gedung, dilangkahkan kakinya menaiki anak tangga yang tua dan lapuk. Setiap langkahnya berdecit, ia diburu waktu. Sampailah Al ke atap gedung. Diedarkan pandangannya ke segala penjuru. “SAMARA!” panggilnya pada sosok yang berdiri di pinggir gedung “apa yang kamu lakukan ?!! jangan tolong jangan berbuat bodoh” tubuh itu berbalik menatap Al, wajah cantiknya tersenyum menatap Al, rambutnya tergerai terbawa angin, hanya sepotong kata yang mengalir dari bibirnya “terimakasih kakak”, senyum terakhirnya melekat erat di ingatan Al, tidak hanya di matanya. Mimpinya jadi kenyataan, Samara pergi untuk selamanya.

1 comment:

komengnya plis..